Cowok Metroseksual VS Perokok
Fenomena cowok metroseksual sebenarnya sudah naik ke permukaan sejak beberapa tahun lalu. Keberadaannya tidak lepas dari pengaruh tuntutan gaya hidup modern yang melanda kota-kota besar semacam Jakarta. Boleh jadi ini semacam upaya transformasi diri dalam rangka menemukan identitas baru yang lebih keren dan sesuai dengan tuntutan zaman.
Lho? Kalau fenomena lama kenapa baru diposting? Hehe,
daripada nggak ada yang diposting mendingan posting wacana lama. Siapa tahu ada yang belum tahu
apa dan siapa aja yang termasuk kategori cowok metroseksual.
Setelah Korupsi Kini “Cyber Crime”
Sungguh memprihatinkan!
Baru saja Paypal membuka kembali layanannya untuk para neter Indonesia, sebagai bukti telah pulihnya kepercayaan dunia internasional atas dunia maya Indonesia, kini nama negeri ini tercoreng kembali dengan munculnya berita mengagetkan tentang adanya dua orang Indonesia yang melakukan kejahatan di dunia maya.
Harian Kompas terbitan 24 Juli 2008 memberitakan bahwa Polri telah menangkap Ronal Lubis (28) dan Bayu (26) sebagai tersangka pelaku “cyber crime ” yang telah menipu Chumpon, warganegara Thailand. Setelah dilakukan penyidikan oleh Polri, Chumpon dikabarkan mengalami kerugian sebesar 19.520 dollar Amerika . Uang sebesar itu telah ditransfernya ke Bank Mandiri dalam rangka membeli sebuah jet ski yang dijual tersangka lewat situs www.henbing.com . Namun ternyata barang yang dipesannya tidak kunjung datang sampai akhirnya ia melaporkan kasusnya ke pihak berwajib.
Kalau satu transaksi saja bisa menghasilkan uang sedemikian besar, tentu tak aneh kalau mereka bisa bepergian ke luar negeri, walaupun hanya sebagai pengusaha fotokopi kecil-kecilan.
Kita tidak tahu entah sudah berapa orang yang jadi korbannya. Kita cuma bisa berharap semoga tak ada lagi hal buruk seperti ini terjadi di kemudian hari. Semoga kita semua sadar bahwa nama negeri ini sudah sangat buruk di mata internasional sebagai negeri para koruptor, janganlah ditambah lagi dengan sebutan negeri para penjahat dunia maya alias cyber criminal .
Transcendental Meditation For Employees
Transcendental meditation was a movement founded in 1957 by a man of India, Maharishi Mahesh Yogi. Today, it has over 6 million followers and some of them include Hollywood celebrities and singers.
What makes this form of meditation different from the others is the fact that you don’t just learn everything there by reading a book but by learning from a transcendental meditation expert.
The ultimate goal of Transcendental Meditation is to make each member achieve pure consciousness. By doing so, the individual will be able to find peace with him or herself and also with the rest of the world.
The practice of Transcendental Meditation takes about 15 minutes each day. In order to be part of this organization, Maharishi Mahesh Yogi created a seven step process which everyone must go through that also includes two lectures, a personal interview with a trained instructor and four days of practice.
Pawiwahan Oka Antara Dan Rara Wiritanaya
Kalau ada event yang terlewat dari pengamatan saya, itu soal biasa. Maklum saya jarang nonton TV sih.
Tapi kali ini saya sungguh menyesal karena yang terlewatkan itu adalah event yang membuat saya malu. Pasalnya, event itu adalah upacara pawiwahan (perkawinan) sepasang selebriti asal Bali: Oka Antara dan Rara Wiritanaya.
Yang lebih memalukan, saya baru tahu kalau Oka Antara itu adalah salah seorang presenter MTV, penyanyi dan bahkan sudah main di beberapa film layar lebar seperti: “Gue Kapok Jatuh Cinta”, “Ayat-ayat Cinta” dan kabarnya satu lagi film yang dibintangi oleh putera ketiga mantan Wakil Dirut Bank BRI ini akan segera beredar.
Referensi saya tentang Rara pun nyaris nihil. Model yang kabarnya sudah membintangi seabreg film iklan ini pun juga adalah seorang artis yang sudah malang melintang di dunia persinetronan.
Agar tidak terlalu malu, maka saya buat posting ini, hehe ![]()
Ngaben 3 Miliar Di Bali
Sebagai orang Bali yang tinggal di rantau, saya selalu senang dapat mengikuti perkembangan atau peristiwa spektakuler yang terjadi di pulau wisata itu. Seperti kemarin, misalnya, sebuah media cetak yang melansir berita mengenai upacara ngaben yang berlangsung di kota kecil Ubud membuat saya begitu asik bergelut dengan rasa rindu. Mata saya menatap lekat koran yang ada di hadapan saya.
Ribuan orang yang terlibat dalam upacara itu tentu saja mengundang decak kagum. Gotong-royong yang menjadi karekteristik masyarakat Bali pasti tampak sangat menonjol sepanjang prosesi upacara. Ini tentu menjadi tontonan atau hiburan yang menarik, tidak saja bagi masyarakat setempat tetapi juga wisatawan domistik dan mancanegara.
Namun ada sedikit yang mengganjal di hati saya begitu mengetahui bahwa upacara ngaben itu menghabiskan biaya sekitar Rp 3 miliar. Sungguh jumlah yang tidak main-main untuk sebuah upacara keagamaan.
Saya punya kesan, pemaknaan masyarakat Hindu di Bali akan upacara-upacara keagamaan seperti Dewa Yadnya dan Pitra Yadnya masih belum berubah. Sejak dulu, pada kedua jenis korban suci inilah masyarakat Bali cenderung tidak sungkan menghamburkan dana dalam jumlah besar. Sedangkan untuk pengorbanan lain seperti Jnana Yadnya (korban suci untuk pengembangan pendidikan), Manusa Yadnya (korban suci yang ditujukan untuk pengembangan SDM) sangat kurang mendapat perhatian.
Memang, pengeluaran dana sebesar apa pun dalam hal ini adalah sah-sah saja, sebab itu berasal dari kekayaan pribadi. Hanya saja fenomena seperti ini perlu dicermati agar jangan sampai menimbulkan salah persepsi. Inti upacara ngaben adalah upaya pengembalian badan wadah ke asalnya yang disebut Panca Mahabhuta (tanah, air, api, udara dan ruang hampa). Sama sekali bukan merupakan upaya meraih “tiket” untuk masuk sorga apalagi moksah (mencapai keabadian).


